Selasa, 17 Juni 2025

Cerpen Anak Sekolah

Mencari Masa Depan

Jamil berlari sekuat tenaga, sembari menoleh kebelakang melihat sosok bayangan hitam yang mengejarnya. Semakin kencang berlari semakin kencang pula sosok itu mengejar Jamil. Semakin mendekat, sekuat apapun jamil berlari sosok itu justru semakin mendekat. Nafas jamil berdegup kencang, jamil menoleh kebelakang namun sosok itu hilang, lenyap bagai ditelan bumi. Jamil berhenti, menata nafas, kedua tangannya diletakkan di lutut. Jamil berdiri dan sosok itu ada depannya. Jamil berteriak "ahhhhhhh". Jamil terkesiap, ternyata hanya mimpi. "Astaghfirullah" Jamil berguman dalam hati "ternyata hanya mimpi".

Jamil terdiam, kenapa dia bisa bermimpi yang menakutkan seperti itu. Dia ingat ternyata Jamil lupa berdoa sebelum tidur. Jamil beranjak dari tempat tidur berjalan gontai menuju kamar mandi sambil mengusap-usap mata yang masih mengantuk. Dilihat jam dinding menunjukkan pukul tiga lebih lima belas menit.

Jamil adalah anak sholih yang selalu taat ajaran agama. Sholat lima waktu, mengaji dan belajar tidak pernah dia tinggalkan. Entah kenapa malam ini dia bisa lupa untuk berdoa sebelum tidur. Bahkan dia juga lupa untuk berwudhu, membaca tiga surah "Qul". Tidak seperti biasanya dia lupa amalan itu. Jamil mengambil air untuk wudhu, mengambil pakaian koko, peralatan sholat dan menggelar sajadah. Sholat tahajud dia tunaikan pagi itu sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Dalam sujudnya Jamil selalu memohon perlindungan kepada Tuhan untuk dirinya dan keluarganya. Jamil adalah seorang anak yang rajin serta mencintai keluarganya.

Tak terasa Jamil sudah satu jam duduk bersila, menengadahkan tangan, mengadu dan berkeluh kesah kepada Tuhan-nya. Azan subuh berkumandang terdengar sayup-sayup dari kamar Jamil. Jamil beranjak dari tempat sujudnya, menuju kamar orang tuanya untuk membangunkan mereka sholat berjamaah di masjid. "Pak, Bu, apakah kalian sudah bangun? Sudah azan subuh, ayo kita ke masjid" ucap Jamil dengan suara tegas namun lembut. "Sudah bangun nak" Bapak dan Ibu Jamil menjawab bersamaan. "Jamil tunggu di ruang tamu ya Pak, Bu?" Ucap Jamil. "Baik nak" jawab Bapak. Mereka berangkat ke masjid jalan kaki karena jarak rumah ke masjid lumayan dekat. Sudah banyak jamaah yang datang ke masjid untuk sholat subuh berjamaah. Bapak-bapak dan anak laki-laki saling bersalaman, sedang Ibu-ibu dan anak perempuan juga saling bersalaman. Memberi salam, menyapa dengan wajah berseri-seri serta senyuman yang tulus dari hati terlihat. Kebiasaan ini yang membuat masyarakat di desa ini sangat harmonis dan tentram.

Matahari semakin menampakkan sinarnya, jam menunjukkan pukul setengah enam, waktu yang tepat untuk berolahraga. Jamil bersama Davin dan Adit (yang merupakan teman Jamil) berlari-lari di area lapangan desa. Sudah banyak anak-anak yang berolahraga di lapangan desa. Ada yang push up, sit up, senam dan lain-lain. Tidak hanya anak-anak, remaja dan orang tua juga ikut berolahraga.

"vin, kamu sudah mengerjakan PR dari pak Hasan?" Tanya Adit. "Alhamdulillah sudah dit, la kamu gimana dit?" Davin bertanya balik kepada Adit. "Sudah dong kan aku anak rajin, hehehe". "Iya ya percaya deh kalau kamu anak rajin. Eh Mil, kamu kok diam saja?" Tanya Davin. "Gak apa-apa vin, cuma kepikiran mimpi semalam saja." "Emang kamu mimpi apa sih Mil kok sampai kepikiran gitu?." Tanya Adit. "Mimpi dikejar kejar bayangan hitam dit." "Udah gak usah dipikir itu hanya bunga tidur saja Mil" ucap Adit. "Eh udah jam enam, ayo pulang siap-siap ke sekolah nanti telat lo." Kata Adit. "Oke bos" Jamil dan Davin menjawab.

Jamil tiba di rumah segera mandi dan bersiap untuk ke sekolah. Ibu Jamil menyiapkan sarapan untuk Jamil dan ayahnya yang bersiap berangkat kerja. "Wah sarapannya kok enak bu?" Ucap Jamil. "Enak gimana Mil?". Sahut ibu. "Ini ada roti panggang, selai kacang dan susu kesukaan aku bu." Jamil menjawab lagi. "Oh itu sengaja ibu buat agar kamu jadi anak sehat dan pintar, agar besok jadi anak yang sukses dan bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama, gitu Mil". "Wah makasih ya bu?". Ucap Jamil. "Iya sama-sama nak". Tidak lupa berdoa sebelum dan sesudah sarapan, Jamil juga membersihkan piring serta membantu ibu merapikan piringnya. "Bu, Jamil berangkat sekolah dulu ya, doakan Jamil ya bu?". "Iya nak" sahut Ibu Jamil.

Jamil, Davin, Adit dan teman-temannya belajar dengan penuh semangat, memperhatikan penjelasan Pak Hasan dengan seksama. Mereka memahami bahwa belajar adalah bekal untuk mengarungi samudra kehidupan yang akan datang. Tidak hanya ilmu sosial, ilmu agama juga Jamil pelajari dengan sungguh-sungguh. Dengan ilmu manusia mengetahui apa yang belum diketahui dan menjadikannya alat untuk menjadi lebih baik. Menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, nusa, bangsa dan agama. Cita-cita mulia yang ingin diwujudkan oleh Jamil sebagai khalifah di bumi ini.

Sepulang sekolah Jamil istirahat sejenak, merebahkan badan karena sore nanti dia dan teman-temanya harus mengikuti kegiatan bersih desa. Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat setempat setiap satu bulan sekali sebagai bentuk mencintai lingkungan dan alam sekitar. Jika kita baik kepada alam, maka alam akan baik kepada kita. Slogan itulah yang ditanamkan oleh masyarakat di desa ini.

Jam setengah empat Jamil dan teman-temannya sudah berkumpul untuk mengikuti kegiatan bersih desa. Ada yang membawa sapu lidi, sabit, cangkul bahkan ada yang membawa gerobak angkut. Jamil dan teman-temannya melaksanakan tugas dengan riang gembira. Masyarakat saling bersenda gurau selama kegiatan. Riuh suara masyarakat yang mengikuti kegiatan bersih desa menandakan mereka bahagia. Tepat jam lima kegiatan selesai, keringat bercucuran di badan Jamil dan kawan-kawan. Mereka bergegas pulang, mandi dan bersiap-siap untuk sholat magrib di masjid.

Jamil bersama teman-teman sholat magrib berjamaah di masjid, mengaji dan mengkaji Al Quran bersama ustadz Budi. Banyak hal yang dibahas oleh ustadz Budi pada malam itu. Kegiatan mengaji dan mengkaji Al Quran dilakukan sampai menjelang isya'. Selepas sholat isya' Jamil dan teman-temannya pulang ke rumah masing-masing. Mempersiapkan buku pelajaran untuk besok pagi. Mempelajari dan mengerjakan tugas dari Pak Hasan serta mengecek alat tulis yang akan dipakai untuk belajar besok di sekolah.

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan tepat, Jamil bersiap untuk tidur. Tidak ingin mimpi buruk semalam terulang lagi, Jamil mengingat pesat ustadz Budi untuk mempersiapkan diri sebelum tidur. Jamil ingat betul apa saja yang harus dilakukan sebelum tidur. Jamil mengambil air wudhu, membersihkan tempat tidur, berdoa dan membaca tiga surah "qul" dan mendoakan kedua orang tuanya. Jamil menguap dan akhirnya tertidur pulas.