Mencari Masa Depan
Jamil berlari sekuat tenaga, sembari menoleh kebelakang melihat
sosok bayangan hitam yang mengejarnya. Semakin kencang berlari semakin kencang
pula sosok itu mengejar Jamil. Semakin mendekat, sekuat apapun jamil berlari
sosok itu justru semakin mendekat. Nafas jamil berdegup kencang, jamil menoleh
kebelakang namun sosok itu hilang, lenyap bagai ditelan bumi. Jamil berhenti,
menata nafas, kedua tangannya diletakkan di lutut. Jamil berdiri dan sosok itu
ada depannya. Jamil berteriak "ahhhhhhh". Jamil terkesiap, ternyata
hanya mimpi. "Astaghfirullah" Jamil berguman dalam hati
"ternyata hanya mimpi".
Jamil terdiam, kenapa dia bisa bermimpi yang menakutkan seperti
itu. Dia ingat ternyata Jamil lupa berdoa sebelum tidur. Jamil beranjak dari
tempat tidur berjalan gontai menuju kamar mandi sambil mengusap-usap mata yang
masih mengantuk. Dilihat jam dinding menunjukkan pukul tiga lebih lima belas
menit.
Jamil adalah anak sholih yang selalu taat ajaran agama. Sholat lima waktu, mengaji dan belajar tidak pernah dia tinggalkan. Entah kenapa malam ini dia bisa lupa untuk berdoa sebelum tidur. Bahkan dia juga lupa untuk berwudhu, membaca tiga surah "Qul". Tidak seperti biasanya dia lupa amalan itu. Jamil mengambil air untuk wudhu, mengambil pakaian koko, peralatan sholat dan menggelar sajadah. Sholat tahajud dia tunaikan pagi itu sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Dalam sujudnya Jamil selalu memohon perlindungan kepada Tuhan untuk dirinya dan keluarganya. Jamil adalah seorang anak yang rajin serta mencintai keluarganya.
Tak terasa Jamil sudah satu jam duduk bersila, menengadahkan
tangan, mengadu dan berkeluh kesah kepada Tuhan-nya. Azan subuh berkumandang
terdengar sayup-sayup dari kamar Jamil. Jamil beranjak dari tempat sujudnya,
menuju kamar orang tuanya untuk membangunkan mereka sholat berjamaah di masjid.
"Pak, Bu, apakah kalian sudah bangun? Sudah azan subuh, ayo kita ke
masjid" ucap Jamil dengan suara tegas namun lembut. "Sudah bangun
nak" Bapak dan Ibu Jamil menjawab bersamaan. "Jamil tunggu di ruang
tamu ya Pak, Bu?" Ucap Jamil. "Baik nak" jawab Bapak. Mereka
berangkat ke masjid jalan kaki karena jarak rumah ke masjid lumayan dekat.
Sudah banyak jamaah yang datang ke masjid untuk sholat subuh berjamaah.
Bapak-bapak dan anak laki-laki saling bersalaman, sedang Ibu-ibu dan anak
perempuan juga saling bersalaman. Memberi salam, menyapa dengan wajah
berseri-seri serta senyuman yang tulus dari hati terlihat. Kebiasaan ini yang
membuat masyarakat di desa ini sangat harmonis dan tentram.
Matahari semakin menampakkan sinarnya, jam menunjukkan pukul
setengah enam, waktu yang tepat untuk berolahraga. Jamil bersama Davin dan Adit
(yang merupakan teman Jamil) berlari-lari di area lapangan desa. Sudah banyak
anak-anak yang berolahraga di lapangan desa. Ada yang push up, sit up, senam
dan lain-lain. Tidak hanya anak-anak, remaja dan orang tua juga ikut
berolahraga.
"vin, kamu sudah mengerjakan PR dari pak Hasan?" Tanya
Adit. "Alhamdulillah sudah dit, la kamu gimana dit?" Davin bertanya
balik kepada Adit. "Sudah dong kan aku anak rajin, hehehe". "Iya
ya percaya deh kalau kamu anak rajin. Eh Mil, kamu kok diam saja?" Tanya
Davin. "Gak apa-apa vin, cuma kepikiran mimpi semalam saja."
"Emang kamu mimpi apa sih Mil kok sampai kepikiran gitu?." Tanya
Adit. "Mimpi dikejar kejar bayangan hitam dit." "Udah gak usah
dipikir itu hanya bunga tidur saja Mil" ucap Adit. "Eh udah jam enam,
ayo pulang siap-siap ke sekolah nanti telat lo." Kata Adit. "Oke
bos" Jamil dan Davin menjawab.
Jamil tiba di rumah segera mandi dan bersiap untuk ke sekolah. Ibu
Jamil menyiapkan sarapan untuk Jamil dan ayahnya yang bersiap berangkat kerja.
"Wah sarapannya kok enak bu?" Ucap Jamil. "Enak gimana
Mil?". Sahut ibu. "Ini ada roti panggang, selai kacang dan susu
kesukaan aku bu." Jamil menjawab lagi. "Oh itu sengaja ibu buat agar
kamu jadi anak sehat dan pintar, agar besok jadi anak yang sukses dan
bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama, gitu Mil". "Wah makasih ya
bu?". Ucap Jamil. "Iya sama-sama nak". Tidak lupa berdoa sebelum
dan sesudah sarapan, Jamil juga membersihkan piring serta membantu ibu
merapikan piringnya. "Bu, Jamil berangkat sekolah dulu ya, doakan Jamil ya
bu?". "Iya nak" sahut Ibu Jamil.
Jamil, Davin, Adit dan teman-temannya belajar dengan penuh
semangat, memperhatikan penjelasan Pak Hasan dengan seksama. Mereka memahami
bahwa belajar adalah bekal untuk mengarungi samudra kehidupan yang akan datang.
Tidak hanya ilmu sosial, ilmu agama juga Jamil pelajari dengan sungguh-sungguh.
Dengan ilmu manusia mengetahui apa yang belum diketahui dan menjadikannya alat
untuk menjadi lebih baik. Menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, nusa,
bangsa dan agama. Cita-cita mulia yang ingin diwujudkan oleh Jamil sebagai
khalifah di bumi ini.
Sepulang sekolah Jamil istirahat sejenak, merebahkan badan karena sore
nanti dia dan teman-temanya harus mengikuti kegiatan bersih desa. Kegiatan ini
dilakukan oleh masyarakat setempat setiap satu bulan sekali sebagai bentuk
mencintai lingkungan dan alam sekitar. Jika kita baik kepada alam, maka alam
akan baik kepada kita. Slogan itulah yang ditanamkan oleh masyarakat di desa
ini.
Jam setengah empat Jamil dan teman-temannya sudah berkumpul untuk
mengikuti kegiatan bersih desa. Ada yang membawa sapu lidi, sabit, cangkul
bahkan ada yang membawa gerobak angkut. Jamil dan teman-temannya melaksanakan
tugas dengan riang gembira. Masyarakat saling bersenda gurau selama kegiatan.
Riuh suara masyarakat yang mengikuti kegiatan bersih desa menandakan mereka
bahagia. Tepat jam lima kegiatan selesai, keringat bercucuran di badan Jamil dan
kawan-kawan. Mereka bergegas pulang, mandi dan bersiap-siap untuk sholat magrib
di masjid.
Jamil bersama teman-teman sholat magrib berjamaah di masjid,
mengaji dan mengkaji Al Quran bersama ustadz Budi. Banyak hal yang dibahas oleh
ustadz Budi pada malam itu. Kegiatan mengaji dan mengkaji Al Quran dilakukan
sampai menjelang isya'. Selepas sholat isya' Jamil dan teman-temannya pulang ke
rumah masing-masing. Mempersiapkan buku pelajaran untuk besok pagi. Mempelajari
dan mengerjakan tugas dari Pak Hasan serta mengecek alat tulis yang akan
dipakai untuk belajar besok di sekolah.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan tepat, Jamil bersiap untuk
tidur. Tidak ingin mimpi buruk semalam terulang lagi, Jamil mengingat pesat
ustadz Budi untuk mempersiapkan diri sebelum tidur. Jamil ingat betul apa saja
yang harus dilakukan sebelum tidur. Jamil mengambil air wudhu, membersihkan
tempat tidur, berdoa dan membaca tiga surah "qul" dan mendoakan kedua
orang tuanya. Jamil menguap dan akhirnya tertidur pulas.